Tampilkan postingan dengan label penatalaksanaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label penatalaksanaan. Tampilkan semua postingan

Awas .. Ada Herpes Zooster ..! (All About Herpes Zooster)














Herpez Zooster adalah penyakit yang disebabkan oleh virus, menyerang kulit, dan Insidensinya di Indonesia semakin meningkat dari tahun ke tahun. Untuk lebih jelasnya, Mari kita bahas....!

DEFINISI
Herpes zoster adalah penyakit disebabkan oleh infeksi virus varisela-zoster yang menyerang kulit dan mukosa, infeksi ini merupakan reaktivasi virus yang terjadi setelah infeksi promer.

EPIDEMIOLOGI
Penyebabnya sama seperti varisela. Penyakit ini, seperti yang diterapkan dalam definisi, merupakan reaktivasi virus yang terjadi setelah penderita ini mendapat varisela.

GEJALA KLINIS
Daerah yang paling sering terkena adalah daerah torakal, sedangkan mengenai umur lebih sering pada orang dewasa.

Sebelum timbul gejala kulit terdapat, gejala prodromal baik sistemik (demam, pusing, malese), maupun gejala prodromal lokal (nyeri otot-tulang, gatal, pegal dan sebagainya). Setelah itu timbul eritema yang dalam waktu singkat menjadi vesikel yang berkelompok dengan dasar kulit yang eritematosa dan edema. Vesikel ini berisi cairan yang jernih, kemudian menjadi keruh (berwarna abu-abu), dapat menjadi pustul dan krusta.

Masa tunasnya 7-12 hari. Masa aktif penyakit ini berupa lesi-lesi baru yang tetap timbul berlangsung kira-kira seminggu, sedangkan masa resolusi berlangsung kira-kira 1-2 minggu. Disamping gejala kulit dapat juga dijumpai pembesaran kelenjar getah bening regional. Lokalisasi penyakit ini adalah unilateral dan bersufat dermatomal sesuai dengan tempat persarafan. Hipertensi pada daerah yang terkena memberi gejala yang khas. Kelainan pada muka sering disebabkan oleh karena gangguan pada nervus trigeminus (dengan ganglion gaseri) atau nervus fasilais dan otikus (dari ganglion genikulatum).

Neuralgia pascaherpetik adalah rasa nyeri yang timbul pada daerah bekas penyembuhan lebih dari sebulan setelah penyakitnya sembuh. Nyeri ini dapat berlangsung beberapa bulan bahkan bertahun-tahun dengan gradasi nyeri yang bervariasi dalam kehidupan sehari-hari. Kecenderungan ini dijumpai pada orang yang mendapat herpes zoster di atas usia 40 tahun.

KOMPLIKASI
Neuralgia pascaherpetik dapat timbul pada umur di atas 40 tahun, presentasenya 10-15%. Makin tua penderita makin tinggi presentasenya.

Pada penderita tanpa disertai defisiensi imunitas biasanya tanpa komplikasi. Sebaliknya pada yang disertai defisiensi imunitas, infeksi H.I.V, keganasan, atau berusia lanjut dapat disertai komplikasi. Vesikel sering menjadi ulkus dengan jaringan nekrotik.

Paralisis motorik terdapat pada 1-5% kasus, yang terjadi akibat penjalaran virus secara perkontinuitatum dari ganglion sensorik ke sistem saraf yang berdekatan. Paralisis biasanya timbul dalam 2 minggu sejak awitan munculnya lesi. Berbagai paralisis dapat terjadi, misalnya di muka diafragma, batang tubuh, ekstremitas, vesika urinaria, dan anus. Umumnya akan sembuh spontan.

Infeksi juga dapat menjalar ke alat dalam, misalnya paru, hepar, dan otak.

PEMBANTU DIAGNOSIS
Pada pemeriksaan percobaan Tzanck dapat ditemukan sel detina berinti banyak.

DIAGNOSIS BANDING
1. Herpes simpleks
2. Pada nyeri yang merupakan gejala prodromal lokal sering salah diagnosis dengan penyakit reumatik maupun dengan angina pektoris, jika terdapat di daerah setinggi jantung.

PENGOBATAN
Terapi sistemik umumnya bersifat simtomatik, untuk nyerinya diberikan analgetik. Jika disertai infeksi sekunder diberikan antibiotik. Obat yang biasa digunakan ialah asiklovir dan modifikasinya, misalnya valasiklovir. Sebaiknya diberikan dalam 3 hari pertama sejak lesi muncul.

Dosis asiklovir yang di anjurkan ialah 5 x 800 mg sehari dan biasanya diberikan 7 hari, sedangkan valasiklovir cukup 3 x 1000 mg sehari karena konsentrasi dalam plasma tinggi. Jika lesi baru masih tetap timbul obat tersebut masih dapat diteruskan dan dihentikan setelah 2 hari sejak lesi baru tidak timbul lagi.

Indikasi pemberian kortikosteroid ialah untuk sindrom Ramsay Hunt. Pemberian harus sedini-dininya untuk mencegah terjadinya paralisis. Yang biasa kami berikan ialah prednison dengan dosis 3 x 20 mg sehari, setelah seminggu dosis diturunkan secara bertahap.

Pengobatan topikal bergantung pada stadiumnya. Jika masih stadium vesikel diberikan bedak dengan tujuan protektif untuk mencegah pacahnya vesikel agar tidak terjadi infeksi sekunder. Bila erosif diberikan kompres terbuka. Kalau terjadi ulserasi dapat diberikan salap antibiotik.

PROGNOSIS
Umumnya baik, pada herpes zoster oftalmikus prognosis bergantung pada tindakanperawatan secara dini.

Apa itu Otitis Eksterna Sirkumskripta? Bagaimana penanganannya?

Otitis eksterna sirkumskripta adalah infeksi bermula dari folikel rambut di liang telinga yang disebabkan oleh bakteri stafilokokus dan menimbulkan furunkel di liang telinga di 1/3 luar. Sering timbul pada seseorang yang menderita diabetes.

Gejala klinis otitis eksterna sirkumskripta berupa rasa sakit (biasanya dari ringan sampai berat, dapat sangat mengganggu, rasa nyeri makin hebat bila mengunyah makanan). Keluhan kurang pendengaran, bila furunkel menutup liang telinga. Rasa sakit bila daun telinga ketarik atau ditekan. Terdapat tanda infiltrat atau abses pada 1/3 luar liang telinga.

Penatalaksanaan otitis eksterna sirkumskripta :

  • Lokal : pada stadium infiltrat diberikan tampon yang dibasahi dengan 10% ichthamol dalam glycerine, diganti setiap hari. Pada stadium abses dilakukan insisi pada abses dan tampon larutan rivanol 0,1%.
  • Sistemik : Antibiotika diberikan dengan pertimbangan infeksi yang cukup berat. Diberikan pada orang dewasa ampisillin 250 mg qid, eritromisin 250 qid. Anak-anak diberikan dosis 40-50 mg per kg BB.
  • Analgetik : Parasetamol 500 mg qid (dewasa). Antalgin 500 mg qid (dewasa).

  • Pada kasus-kasus berulang tidak lupa untuk mencari faktor sistemik yaitu adanya penyakit diabetes melitus

    Apa yang Anda Lakukan jika Mengalami Alergi Terhadap Obat Antibiotik Amoksilin?

















    ANTIBIOTIK
    amoksisilin, salah satu jenis penisilin, biasa digunakan untuk mengobati berbagai macam kondisi, termasuk infeksi sinus. Seperti halnya obat lain, kadang-kadang seseorang bisa memiliki reaksi alergi terhadap amoksisilin.

    Tingkat keparahan dan sifat gejala akan menentukan bagaimana mengatasi reaksi alergi ini. Adapun gejala-gejala umum pada mereka yang alergi terhadap amoksisilin dan obat penisilin lainnya yakni ruam, gatal-gatal, dan pembengkakan bibir serta anafilaksis. Reaksi anafilaksis termasuk kesulitan bernapas dari tenggorok atas, detak jantung yang cepat, dan pusing. Bagaimana bila kita mengalami salah satu gejala di atas? Berikut tipsnya seperti dikutip dari eHow.com:

    1. Segera berhenti konsumsi amoksisilin jika mengalami gejala alergi, tidak peduli seberapa kecil reaksi yang terjadi.

    2. Hubungi segera dokter yang meresepkan antibiotik itu. Ini penting supaya dokter sadar akan potensi alergi pada tubuh Anda supaya infeksi awal bisa segera diatasi.

    3. Atasi gatal-gatal atau ruam dengan meminum antihistamin yang dapat dibeli di apotek seperti Benadryl. Gunakan antihistamin sesuai dengan arahan dokter atau sesuai dengan label kemasan.

    4. Cobalah untuk mandi untuk menghindari iritasi kain dan membatasi keringat yang dapat membantu untuk menenangkan ruam.

    5. Segera cari rujukan medis bila diketahui ada anggota keluarga yang menunjukkan tanda-tanda reaksi anafilaksis yang mungkin terkait amoksisilin.

    6. Dalam banyak kasus, suntikan epinepherine bisa membantu untuk menghentikan reaksi alergi.

    7. Jika Anda mengalami reaksi anafilaksis, segera cari tindakan medis.