Tampilkan postingan dengan label Nyeri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nyeri. Tampilkan semua postingan

Gejala Klinis Penderita Otitis Eksterna









Rasa penuh pada telinga merupakan keluhan yang umum pada tahap awal dari otitis eksterna difusa dan sering mendahului terjadinya rasa sakit dan nyeri tekan daun telinga. Rasa sakit di dalam telinga bisa bervariasi dari yang hanya berupa rasa tidak enak sedikit, perasaan penuh didalam telinga, perasaan seperti terbakar hingga rasa sakit yang hebat, serta berdenyut. Meskipun rasa sakit sering merupakan gejala yang dominan, keluhan ini juga sering merupakan gejala sering mengelirukan. Kehebatan rasa sakit bisa tidak sebanding dengan derajat peradangan yang ada. Ini diterangkan dengan kenyataan bahwa kulit dari liang telinga luar langsung berhubungan dengan periosteum dan perikondrium, sehingga edema dermis menekan serabut saraf yang mengakibatkan rasa sakit yang hebat. Selain itu, kulit dan tulang rawan 1/3 luar liang telinga bersambung dengan kulit dan tulang rawan daun telinga sehingga gerakan yang sedikit saja dari daun telinga akan dihantarkan kekulit dan tulang rawan dari liang telinga luar dan mengkibatkan rasa sakit yang hebat dirasakan oleh penderita otitis eksterna.

Gatal merupakan gejala klinik yang sangat sering dan merupakan pendahulu rasa sakit yang berkaitan dengan otitis eksterna akut. Pada kebanyakan penderita rasa gatal disertai rasa penuh dan rasa tidak enak merupakan tanda permulaan peradangan suatu otitis eksterna akuta. Pada otitis eksterna kronik merupakan keluhan utama.

Kurang pendengaran mungkin terjadi pada akut dan kronik dari otitis eksterna akut. Edema kulit liang telinga, sekret yang sorous atau purulen, penebalan kulit yang progresif pada otitis eksterna yang lama, sering menyumbat lumen kanalis dan menyebabkan timbulnya tuli konduktif. Keratin yang deskuamasi, rambut, serumen, debris, dan obat-obatan yang digunakan kedalam telinga bisa menutup lumen yang mengakibatkan peredaman hantaran suara.

Sekilas Pandang Nyeri Haid (Jenis dan Faktor Resiko Dismenore)

Dismenore didefinisikan sebagai gangguan menstruasi atau nyeri haid. Istilah dismenore berasal dari kata Yunani dys, yang berarti sulit / menyakitkan / abnormal, meno, makna bulan , dan rrhea, berarti aliran.

Dismenore adalah salah satu keluhan kebidanan yang paling umum pada wanita muda yang dijumpai dokter. Pengelolaan yang optimal gejala ini tergantung pada pemahaman dari penyebab yang mendasari. Dismenorea diklasifikasikan sebagai primer (spasmodic) atau sekunder (kongestif).

Dismenore primer didefinisikan sebagai nyeri haid tidak berhubungan dengan patologi pelvis makroskopis (yaitu, tidak adanya penyakit panggul). Ini biasanya terjadi dalam beberapa tahun pertama setelah menarche dan mempengaruhi hingga 50% dari perempuan postpubertas.

Dismenore sekunder didefinisikan sebagai nyeri haid akibat anatomis dan / atau patologi pelvis makroskopis, seperti yang terlihat pada wanita dengan endometriosis atau penyakit radang panggul kronis. Kondisi ini paling sering diamati pada wanita berusia 30-45 tahun.

Faktor-faktor risiko berikut telah dihubungkan dengan episode keparahan dari dismenore:
  1. Sebelumnya usia menarche dini
  2. Panjang periode menstruasi
  3. Berat aliran menstruasi
  4. Merokok
  5. Positif riwayat keluarga
Obesitas dan konsumsi alkohol juga ditemukan terkait dengan dismenorea pada beberapa (tidak semua) studi. Aktifitas fisik dan durasi dari siklus haid tampaknya tidak berhubungan dengan progresifitas nyeri haid.